Selasa, 13 Januari 2015

TANYA

Baik dan buruk? Apakah itu hanya  konstruksi buatan manusia untuk menilai sifat & tindakan dalam bersikap? Terus Tuhan itu apa? Apa itu juga konstruksi imajinasi umat manusia supaya mereka ada tempat berlindung dari hiruk pikuknya dunia? Apa kalian para manusia menyembah Tuhan karena adanya janji surga untuk yang baik dan neraka untuk yang buruk?

Menurut legenda Adam dan Hawa, mereka sebenarnya adalah manusia penghuni surga yang di turunkan ke bumi karena tidak mematuhi larangan Tuhan dengan memakan buah terlarang. Lalu dampaknya, kita umat manusia musti tinggal di dunia yang penuh kebohongan ini. Apa rangkaian kejadian itu merupakan hal yang tidak di sengaja? Atau memang sudah tergores dalam naskah cerita yang di tulis Tuhan?

Bila manusia itu tidak bisa luput dari dosa dan kesalahan, maka Tuhan menciptakan maaf dan taubat. Tuhan maha baik ya? Tapi ketika Tuhan mengirimkan nyawa ke dunia ini, mengapa nasibnya berbeda-beda? Katanya Tuhan juga maha adil?

Kenapa aku menulis tulisan ini? apa karena Tuhan yang menggerakkan tanganku? Atau malah iblis yg menggerakkannya? Tapi, Tuhan maha pengatur segalanya kan? Bila yang menggendalikan tanganku itu iblis, berarti Tuhan jugalah yang mengendalikan tanganku lewat perantara iblis tersebut. Ternyata jadi Tuhan itu susah ya? Semuanya bermuara padaNya.

Bila aku terlahir dan hidup di jalan yang jahat, apa aku tidak akan masuk surga? Tuhan yang membuatku, menciptakan hatiku, Ia juga yang memberiku cobaan dan menempaku. Bilamana aku berujung menjadi jahat, dan Tuhan mematikanku dalam kondisi terburuk, apa itu artinya Tuhan menginginkanku tinggal di neraka? Katanya Tuhan maha baik?

Tuhan, apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku dan dunia ini? Sesungguhnya Engkau juga jauh lebih mengetahui dari apa yang sudah diketahui manusia kan? Tuhan maha segalanya... Maka dari itu aku juga yakin Tuhan tidak gaptek.

Cinta berawal dari rasa keingintahuan yang tinggi.
Selalu berhasil membuatku berhipotesis dan berimajinasi.
Membawaku dalam pertikaian otak yang tidak serasi.
Dan berujung pada realita yang entah layak atau tidak untuk diyakini.

Wahai pemilik mentari,
Teteskan cahya ketika indra tak mampu maknai.
Karena aku takut bila nurani mengkhianati.

Teruntuk Kau yang berada di langit,
Lukiskan saja takdirku dengan abstrak.
Biarkan aku menikmati sentimen dan rasa akan estetika didalamnya.                  


Satria, pemuda yang sedang berfikir dan menunggu jawaban atas jutaan pertanyaan yang memenuhi otak. Hanya 1 hal yang bisa dia lakukan dengan lantang sekarang. Bersyukur. (Satria Dwinanda, 2015)

Kamis, 28 Agustus 2014

TENTANG LUKISAN/PAHATAN MAKHLUK HIDUP (SHURAH)

1. Rasulullah bersabda: “Malaikat tidak akan masuk di satu rumah yang ada padanya anjing atau shurah-shurah.” (HSR. Bukhari).

2. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya rumah yang ada padanya shurah itu, tidak dimasuki oleh malaikat.” (HSR. Bukhari).

3. Telah berkata Aisyah: “Sesungguhnya Nabi saw tidak pernah membiarkan di rumahnya ada sesuatu barang yang ada padanya patung-patung salib, melainkan ia hapuskan dia.” (HSR. Bukhari).

4. Rasulullah bersabda: “Siapakah di antara kamu yang mau pergi ke Madinah dan pecahkan tiap-tiap berhala dan hapurkan tiap-tiap shurah? Barangsiapa kembali membuat sesuatu dari yang tersebut itu, sesungguhnya kufurlah ia kepada (perintah) yang diturunkan atas Muhammad saw.” (HR. Ahmad).

5. Telah bersabda Rasulullah saw: “Allah Ta’ala telah berfirman: Bukankah tidak ada orang yang lebih dhalim daripa orang yang hendak membuat (sesuatu) seperti ciptaan-Ku? Cobalah mereka buat sebiji gandum! Cobalah mereka ciptakan seekor semut!” (HSR. Bukhari).

6. Rasulullah bersabda: “Orang yang paling berat siksanya di sisi Allah adalah tulang-tukang bikin shurah.” (HSR. Bukhari).

7. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat shurah-shurah ini, akan dia’zab pada hari kiyamat. Dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang kamu jadikan!” (HSR. Bukhari).

8. Telah berkata Anas: “Adalah Aisyah mempunyai tabir yang ia buat tutup sebagian rumahnya, maka sabda Rasulu: Hilangkanlah dia daripadaku, karena gambar-gambar itu terus mengganggu aku di dalam shalatku.” (HSR. Bukhari).

9. Diriwayatkan oleh Busr ibn Sa’id dari Zaid ibn Khalid, dari Abu Thalhah, seorang sahabat Rasulullah saw, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya malaikat tidak akan masuk di satu rumah yang ada padanya shurah”
Kata Busr: Sesudah itu, Zaid ibn Khalid sakit, maka kami pergi melawat dia. Tiba-tiba di pintunya ada satu tabir yang ada gambarnya, maka saya berkata pada ‘Ubaidillah al Khaulani, anak angkatnya Maimunah isteri Nabi saw: Kemarin dulu, bukankah Zaid kabarkan kepada kita perihal shurah? Maka kata ‘Ubaidillah; “Tidakkah kalian dengar ia berkata: Kecuali tulisan di kain?” (HSR. Bukhari).

10. Telah berkata Aisyah: Saya mempunyai satu kain yang bergambar tersangkut di satu rak, padahal Nabi saw. Shalat menghap kain tersebut. Maka sabda Nabi saw: “Jauhkanlah dia daripadaku.” Maka saya jauhkan kain itu dan saya jadikan beberapa bantal. (HSR. Muslim).

11. Telah berkata Aisyah: “Rasulullah datang kepada saya, padahal saya memakai satu tabir yang ada gambarnya, lalu beliau singkirkan, maka saya jadikan kain tersebut menjadi dua bantal.” (HSR. Muslim).

12. Telah berkata Aisyah: “Sesungguhnya saya pernah menggunakan satu tabir bergambar, lalu Rasulullah saw masuk dan turunkan kain tersebut, untuk kemudian saya jadikan dua bantal di mana Rasulullah biasa bersandar padanya.” (HSR. Muslim).

13. Telah berkata Aisyah: Rasulullah pernah kembali dari suatu pelayaran, padahal saya ada tutup rak saya dengan satu kain bergambar. Rasulullah saw mencabut kain tersebut ketika melihatnya sambil berkata: “Orang yang paling pedih azabnya di hari kiamat adalah orang yang menyerupai buatan Allah swt”. Maka kata Aisyah: Lalu saya jadikan tabir itu satu atau dua bantal. (HSR, Bukhari).

14. Telah berkata Aisyah: Saya pernah beli satu bantal yang bergambar, maka Rasulullah tidak mau masuk, hanya berdiri di depan pintu saja, maka saya berkata padanya: Saya bertobat kepada Allah daripada dosa yang telah saya kerjakan. Sabda Rasul: “Buat apa bantal ini?” Saya jawab:  Buat Rasulullah duduk di atasnya dan bersandar. Maka sabda Rasulullah: “Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar ini akan disiksa di hari kiamat, ditanya pada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kamu buat.” (HSR. Bukhari).

15. Telah berkata Aisyah: Rasulullah saw pernah pergi menghadapi suatu peperangan. Maka saya ambil satu hamparan kain (bergambar), lalu saya gantungkan atas pintu. Setelah Rasulullah kembali dan melihat hamparan tersebut, kelihatan mukanya yang tidak suka, lantas ia tarik sampai tercabut, lalu beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak perintahkan kanmi memakaikan pakaian bagi batu dan tanah.” Lantas kami jadikan dia dua bantal dan saya penuhkan dia dengan sabut kurma. Rasulullah tidak cela saya buat begitu. (HSR. Muslim).

16. Rasulullah bersabda : “Barang siapa membuat suatu shurah di dunia, akan dipaksa dia memberi ruh akan dia pada hari kiamat, padahal ia tidak bisa memberi ruh tersebut.” (HSR. Bukhari).

17. Telah berkata Sa’id ibn Abi Hasan: Telah datang seorang kepada Ibnu Abbas. Lalu ia berkata : Saya ini tukang memnbuat shurah-shurah. Saya harap memberi fatwa kepada saya tentang itu. Maka kata Ibnu ‘Abbas: Saya dengar Rasulullah bersabda: “Tiap-tiap tukang shurah (tempatnya) di neraka. Buat tiap-tiap satu shutah yang ia buat itu, Allah jadikan satu badan yang menyiksa dia di jahanam”. Dan kata Ibnu ‘Abbas: Kalau terpaksa engkau hendak kerjakan, buatlah shurah-shurah pohon dan barang-barang yang tidak bernyawa. (HSR. Muslim).

18. Telah berkata Aisyah: Sesungguhhya Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah saw satu gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah yang di dalamnya ada shurah-shurah.Maka sabda Rasulullah: “Sesungguhnya mereka itu, jika ada di antara mereka seorang yang saleh, lalu ia mati, maka mereka buat tempat sembahyang di atas kuburnya, dan mereka buat padanya shurah-shurah itu. Mereka itu orang-orang yang jahat pada pandangan Allah di hari kianmat.” (HSR. Muslim).

19. Telah berkata Aisyah: “Saya biasa bermain boneka (anak-anak patung) di hadapan Nabi saw.” (HSR. Bukhari).


          Banyak ya? Dan dari ke-19 hadits itu, telah membuahkan bermacam-macam pendapat sesuai dengan penafsiran masing-masing orang.  Pendapat-pendapat tersebut contohnya adalah:

Pendapat Pertama: bahwa semua macam shurah, yakni patung, arca, gambar, walaupun bentuknya tidak utuh, itu haram dibuat. Pendapat pertama ini didasari hadits no. 1 hingga hadits no. 8.
Pendapat Kedua:  bahwa semua shurah itu haram, kecuali gambar di atas kain dan sejenisnyanya. Landasanya hadits no. 9.
Pendapat Ketiga:  bahwa gambar-gambar, patung-patung, arca-arca yang dijadikan perhiasan itu haram; dan yang tidak dijadikan perhiasan, yakni diinjak-injak, diduduki atau disandari itu tidak haram.  Dasar hukumnya adalah hadits no. 10 sampai no.15.
Pendapat Keempat: berpendapat bahwa gambar-gambar dan patung-patung yang cukup sifatnya itu haram; sementara yang tidak cukup sifatnya, seperti gambar tak utuh semisal gambar yang dipotong kepalanya, serta gambar-gambar pohon, rumah, gunung dan sebagainya, tidak haram dibuat. Alasanya: hadits no. 16 dan 17.
Pendapat Kelima: bahwa gambar-gambar dan patung-patung yang ditakuti akan disembah saja yang haram dibuat. Dalilnya hadits no. 18 dan 19.


          Sementara itu pandangan A. Hassan lewat bukunya Soal-Jawab tentang berbagai masalah Agama  jilid 1-2 tentang hadits-hadits tersebut di atas adalah: bahwa gambar-gambar dan patung-patung tersebut setelah disarikan menjadi enam jenis, yakni:
              
1. Gambar yang tidak ditakuti akan disembah orang, maka hukumnya boleh;
2. Gambar yang akan ditakuti disembah orang, maka hukumnya haram;
3. Gambar yang memang disembah orang, maka hukumnya haram;
4. Patung yang tidak ditakuti akan disembah orang, maka hukumnya boleh;
5. Patung yang akan ditakuti disembah orang, maka hukumnya haram;
6. Patung yang memang disembah orang, maka hukumnya haram.

          Pendapat  Terakhir tersebut juga didasari oleh pemahaman bahwa Rasulullah saw sangat keras dalam hal penegakan Tauhid sehingga hadits-hadits di atas terucap oleh Rasulullah sebagai metode pencegahan kaum muslimin pada waktu itu untuk tidak kembali menyembah berhala-berhala. 

         Lalu mana yang benar dan mana yang salah soal penafsiran di atas? jadinya shurah itu haram atau tidak? kesimpulan dari tulisan di kali ini merujuk kembali pada sudut pandang pribadi kita... otak manusia bermacam-macam, bumi terus berputar, waktu terus berjalan, era juga berganti... manusia terus berlajar untuk menghadapi problematika dunia di zamannya. (Satria Dwinanda, 2014)

Minggu, 27 Juli 2014

SEKELUMIT CERITA SINGKAT, MALAM TAKBIRAN CERIA DI JOGJA

Saudara-saudaraku sekalian yang insyaallah di rahmati oleh Allah, sedikit review tentang malam takbiran kali ini. Untuk kali pertama saya tidak mengikuti serangkaian acara malam takbiran di kampung saya, dan hal tersebut menjadi pengalaman yang cukup berkesan bagi saya. Menghabiskan waktu malam dengan bersih-bersih rumah dari sampah yang bertumpuk, memaksa saya untuk membuangnya ke tempat pembuangan terdekat. Dengan mengendarai motor, saya menyusuri jalanan Jogja dengan diiringi gema takbir anak-anak dan tabuhan drumband yang kompak sehingga menghasilkan irama yang padu padan. Kegembiraan terpancar di wajah mereka, serta sinar lampion yang indah melengkapi keseruan jalanan Jogja. Sungguh suasana yang damai sebelum pada akhirnya saya bertemu rombongan takbir keliling radikal militan lengkap dengan lampion raksasa berbentuk roket dan dinamit. “Wah, lucu dan kreatif, mugo-mugo wae ora njut neror” batin saya bercanda. Mlipir-mlipir saya mencoba menyalip rombongan tersebut, dan batin saya pun salah... DOR! sinar hijau terpecah di atas kepala saya... percikannya mengenai tubuh saya yang lemah ini... dan percikan yang tersentuh kulitpun terasa panas.... “bangsat” itulah kata jorok pertama saya yang keluar di malam takbiran kali ini.


Seusai membuang sampah, perjalanan saya lanjutkan dalam rangka membeli bensin. Untuk menebus dosa wes misuhi uwong le do takbiran bersenjatakan petasan tadi, saya mencoba menikmati perjalanan malam saya sambil melafalkan kalimat takbir sendiri. Sayapun mencoba melupakan kejadian tadi dengan kembali menikmati rombongan takbir keliling yang berlalu lalang di jalanan.  Dan kejanggalanpun terlihat ketika saya menyadari banyak pengendara-pengendara bermotor yang mengganti helm mereka dengan kopyah, peci, sorban, dan sejenisnya. Oke, saya doakan semoga Allah melindungi kepala-kepala mereka seumpama motor mereka mengalami kecelakaan. Semoga kedepannya pak polisi kita membuat kebijakan kalau naik motor nggak usah pakai helm tapi pakai sorban saja.

Bulan Ramadhan memang identik dengan petasan, hal itu pula yang mengganggu malam takbiran ini. Semacam tradisi yang seharusnya tidak perlu di lestarikan. Orang-orang tua yang mempunyai anak memegang peran penting dalam hal ini. Anak-anak musti tahu bahwa petasan itu berbahaya! petasan itu bukan mainan. Rasul nggak mengajarkan kita menyambut hari kemenangan dengan petasan, Rasul juga nggak mengajarkan kita mengisi ramadhan dengan petasan. So, buat kalian bocah-bocah atau malah remaja yang masih main petasan, lebih baik kalian main petasannya di jalur Gaza saja. Jujur saya cukup takut, malam yang harusnya damai ini malah jadi malam yang mencekam. Padahal saya keluar cuma buat buang sampah, beli bensin, dan beli wedang ronde. Namun di perjalanan tersebut banyak sekali ranjau-ranjau mercon yang saya temui. Total 3x saya hampir gejeblukan mercon. Urip ning Jogja le jarene berhati nyaman we bengi iki wes koyo urip ning daerah perang. Jancuk to?


Nah, lebih ironis lagi dalam perjalanan pulang sehabis dari beli wedang ronde, di daerah mangkubumi, saya bertemu rombongan pemuda bermotor tanpa helm membawa bendera palestina dengan gagahnya. Apa yang mereka lakukan? Menebar mercon dengan cara di lemparkan di pinggiran jalan mangkubumi. Maksud e opo jal? Aku gagal paham karo pemuda jaman saiki. Jogja kota pelajar, namun warganya sepertinya masih perlu banyak diajar. Jogja berhati nyaman, tapi malam takbiran koyo kawasan perang. Semoga tahun depan bila masih di beri kesempatan untuk bertemu lagi dengan bulan Ramadhan, kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.  (Satria Dwinanda, 2014)

Selasa, 08 Juli 2014

KOMODIFIKASI RUANG PUBLIK


Komodifikasi, yang berasal dari kata komoditas (sesuatu yang bisa di perdagangkan) adalah proses perubahan barang dan jasa yang awalnya dinilai hanya dari fungsi kegunaanya menjadi komoditas yang dinilai laku di pasaran sehingga menguntungkan. Bingung? Tenang... dalam ekonomi politik media, pengertian komodifikasi ini sudah di definisikan secara sederhana oleh Vincent Mosco (2009), sebagai proses perubahan nilai guna menjadi nilai tukar[1].


            Kita bisa melihat berbagai wajah komodifikasi yang berlangsung salah satunya di media massa kita, khususnya televisi yang juga berfungsi sebagai bagian dari ruang publik. Selain itu komodifikasi juga membayangi bidang-bidang yang lain dalam setiap aspek kehidupan. Dalam pengamatan saya, ada beberapa wajah komodifikasi yang akhir-akhir ini semakin keras arusnya di Indonesia, menyedot berbagai nilai dan budaya ke dalam pusaran komoditas. Sebuah potret kehidupan yang terus tergerus dalam proyek komodifikasi budaya yang memiliki dampak amat mendalam bagi manusia modern.

          1)  Komodifikasi skandal dan sensasi. Semakin di nilai sensasional suatu peristiwa semakin dimanfaatkan oleh media dan pengiklan untuk didramatisasi demi memuaskan hasrat penonton akan sensasi. Di sini entitas publik di ubah menjadi pasar massa yang haus akan sensasi.

            2) Komodifikasi nilai. Misalnya dalam dunia agama, cermati fenomena munculnya beberapa komunitas pemakai jilbab atau para hijabers ala punuk onta dan sejenisnya yang trendi dan gaul. Mereka adalah orang-orang yang senang beragama apalagi kalau itu akan menambah tampilan gaya hidup mereka menjadi funky dan nggak ketinggalan jaman. Maka dari itu tidak usah heran kalau banyak artis yang berbondong-bondong berjilbab, berumroh, atau haji. Apa lagi di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, banyak sekali artis yang mendadak taubat dan juga acara-acara televisi yang mendadak  alim. Bahkan ustad-ustad pop yang ngetop di televisi pun sudah mengubah peran ulama mereka dari penyeru jalan kebaikan menjadi bintang iklan yang menyeru orang untuk membeli produk yang di bintanginya. Inilah hasil karya emas industri budaya populer di Indonesia ketika kesadaran agama dikomodifikasi di tengah kemajuan perkembangan televisi dan internet, mengisi waktu ‘selo’ khalayak dengan apapun yang bisa di jadikan jalan untuk mencari lembar-lembar rupiah bagi pemodal.

            3) Komodifikasi masa kanak-kanak. Di otak para pemasar durjana, anak-anak dan masa kanak-kanak adalah sasaran super empuk, gurih, renyah, dan nikmat. Anak-anak di pandang sebagai gerombolan ikan yang siap di jaring, alias sebagai konsumen yang siap diberondong dengan iklan gaya hidup dan konsumsi. Lihat saja anak-anak yang sudah terjangkit penyakit alay jaman sekarang, sungguh miris. Apalagi melihat artis-artis cilik Indonesia masa kini yang sudah dengan bangga melantunkan tembang-tembang cinta ke lawan jenis. Tak heran bila anak-anak usia SD yang mengidolakannya sudah mengenal pacar-pacaran serta fashion.  Tak aneh pula bila anak-anak tersebut akan terlihat lebih dewasa dari usianya. Konsekuensi dari komodifikasi masa kanak-kanak adalah timbulnya gangguan dalam kehidupan harian mereka. Seperti halnya dunia perempuan, yang telah memicu sejumlah perdebatan hangat dalam kajian budaya dan media.

            4) Bentuk komodifikasi yang unik tapi tak kalah penting, yakni komodifikasi kematian. Kuburan yang dikomodifikasi untuk memenuhi selera budaya berbasis kasta ekonomi, hal ini menjadi ironi dari buruknya mutu penataan pemakaman rakyat yang kurang di pedulikan oleh negara. Kalau sebelumnya ada rumah mewah, kini ada yang namanya pemakaman mewah. Maka, saat nanti kesulitan mendapatkan ruang hidup untuk bermukim akan di tambah pula dengan kesulitan untuk mendapatkan ruang untuk mati bagi mereka yang tak mampu membayar. Terutama saat semua lahan untuk hidup dan untuk mati pun sudah dikomodifikasi atas nama keuntungan duniawi. 

            Inilah era budaya tak beradab dimana berbagai industri budaya yang di kendarai iklan melayani dengan selera rendah, yang penting dapat di terima dan menghasilkan. Hukum pasar memang cerminan selera masyarakat, hiburan adalah pemilik kursi singgasana yang berada di puncak, mengalahkan pendidikan atau hal lainnya. (Satria Dwinanda, 2014)

Sumber: Halim, Syaiful. Postkomodifikasi Media. Yogyakarta: Jalan Sutra, 2013.






[1] Dalam kata-kata Mosco, “Commodification is the process of transforming use values into exchange values”. Lihat Mosco (2009), hlm. 129.

Rabu, 30 April 2014

SEPERCIK KEHANGATAN DALAM COSPLAY CABARET


Dunia cosplay adalah dunia yang menarik, salah satunya adalah mengenai cosplay cabaret, dan saya banyak belajar di dalamnya. Awal saya mengenal cosplay adalah ketika di tawari seorang teman untuk membantunya dalam cosplay cabaret. Apa itu cosplay cabaret? Anggap saja seperti pertunjukan drama teaterikal yang di bawakan oleh suatu tim cosplay. Berawal dari sebatas menjadi pemeran pembantu, saya jadi pecandu. Lalu apa yang menarik? Dari sini kita tidak hanya di tuntut untuk membuat kostum, make-up, dan belajar seni peran saja, namun juga belajar bekerja sama dengan sebuah tim. Selain itu juga bisa belajar mengisi suara karakter yang akan di perankan. Kadangkala dibutuhkan juga kita untuk mempelajari koreografi berantem biar nggak asal berantem, atau juga belajar membuat properti panggung. Selain itu (bila mau) kita juga bisa belajar membuat naskah hingga menyusun BGM.

Persiapan membuat suatu pertunjukan cosplay cabaret lebih menguras pikiran timbang cosplay individu. Kenapa? Jelas problem utama ada pada orang-orangnya yang berjumlah banyak, semakin banyak orang maka semakin susah di atur pula. Dalam urusan ini, tanggung jawab menjadi prioritas utama. Sudah beberapakali saya menangani proyek kabaret, dan sudah beberapakali pula saya di khianati rekan saya sendiri. Entah itu properti yang belum tersedia ketika hari-H, teman yang mendadak menyatakan mundur dari proyek, dan berbagai masalah yang lain. Itu sudah biasa, dan memang kunci sukses untuk menangani suatu proyek kabaret adalah sabar serta selalu siap siaga dengan plan B, C, D, E, F, hingga G.

Albatross Force at CLAS:H Elimination Yogyakarta, 26 April 2014 (Photo by: Reza) 

Selaku penulis yang sok tahu, ada beberapa tips dari saya bila anda ingin membuat sebuah pertunjukan cosplay cabaret:
1.) Pilih teman yang sekiranya punya tanggung jawab tinggi dan waktu senggang yang mencukupi.
2.) Jangan paksa teman anda untuk menjadi chara tertentu. Biarkan dia memilih sendiri, namun jika mau anda bujuk supaya tertarik pada chara yang anda kehendaki juga gapapa sih.
3.) Berikan deadline yang jelas pada teman-teman anda, serta jangan bosan-bosan anda menanyai mereka tentang progress kostum/properti yang mereka kerjakan.
4.) Selesaikan naskah dan BGM secepatnya, karena menurut saya lebih efektif melakukan latihan dengan audio yang siap pakai daripada memegang naskah kasar.
5.) Poin yang terpenting, ciptakan hubungan yang baik dengan semua rekan tim anda! Karena chemistry menjadi yang utama di sini, baru skill individu.

                Mungkin membuat suatu kabaret terdengar sangat merepotkan, padahal biasanya hanya di pakai sekitar 10-20 menit saja. Eits tunggu dulu, justru ini yang bikin seneng. Yang biasanya bikin properti sendirian, sekarang ada temennya. Yang biasanya latihan buat perform cosplay cuma 2 orang, sekarang bisa lebih banyak orang. Yang biasanya di panggung cuma ciat-ciat 3 menit doang, sekarang bisa lebih dari 5 menit. Yang biasanya cosplay ga ada gandengannya, sekarang langsung bergerombol. Yap, menurut saya di dalam proses ber-cosplay cabaret itu selalu meninggalkan sepercik kehangatan tersendiri. Karena yang menarik dari cosplay cabaret itu adalah prosesnya, merepotkan tapi mendekatkan, dan ketika tampil di atas panggung itu adalah waktu untuk menikmati segalanya. Menang atau kalah dalam kompetisinya itu urusan langit.

                Dan satu hal lagi yang musti jadi catatan, perihal “wadah” untuk cosplay cabaret. Jangan terlalu berharap dengan ini kalian akan balik modal ataupun jadi kaya, berbeda dengan cosplay competition, kenapa? Tinggal di nalar saja, imbalan dari cabaret competition kecil kemungkinan bisa mengganti semua yang telah tim kalian keluarkan selain kepuasan batin. Contoh kasarnya, hadiah tunainya Rp. 5.000.000,- dan musti di bagi ke 10 orang di dalam tim kalian, padahal biaya untuk 1 kostum per orangnya saja Rp. 1.000.000,- belum lagi sama biaya properti panggung atau kebutuhan lainnya. Tapi bukan berarti menutup kemungkinan untuk nyari untung sih, bila tidak mau rugi bisa juga sih memakai kostum yang seadanya atau minimalis, siapa tau hanya dengan modal cerita yang menarik bisa memenangkan kompetisi. Tapi intinya ya kalau mau bagus ya jangan setengah-setengah. Nah, minatkah kamu untuk mencoba seni pertunjukan cosplay cabaret? Siapa tau anda di pertemukan dengan takdir anda karenanya.
(Satria Dwinanda, 2014)

Kamis, 09 Januari 2014

PROPAGANDA DALAM SERIAL BIMA SATRIA GARUDA

Indonesia kini memiliki BIMA Satria Garuda, pahlawan super serupa Ksatria Baja Hitam, karakter dalam serial televisi Jepang yang berjaya di Tanah Air pada era 1990an. Bima Satria Garuda, yang dibuat bersama Ishimori Production (pembuat serial Kamen Rider Jepang seperti Ksatria Baja Hitam) merupakan hasil pelokalan Ksatria Baja Hitam yang berbentuk live action super hero program (tokusatsu).[1]
Kisah BIMA bercerita tentang dunia pararel yang tidak memiliki sumber daya alam, sebuah dunia yang hidup di kegelapan. Dunia pararel ini dikuasai oleh VUDO, organisasi hitam yang dipimpin sosok yang amat kejam bernama Rasputin. Suatu hari, ilmuwan di Bumi berhasil membuat sebuah portal yang bisa menghubungkan Bumi dan dunia pararel tersebut. Melihat peluang tersebut, VUDO mengambil kesempatan untuk memasuki Bumi untuk merampas semua kekayaan alam Bumi. Sumber daya kekuatan VUDO datang dari tujuh buah power stone. Dari tujuh benda tersebut, seorang anak muda dari terpilih untuk memilikinya, ia pun berubah menjadi pahlawan untuk menyelamatkan Bumi dari serangan makhluk Jahat.[2]


Seperti itulah kurang lebih gambaran tentang cerita Bima Satria Garuda, sangat khas seperti cerita serial Kamen Rider di Jepang. Kekuatan yang di ciptakan untuk kejahatan, namun di pegang oleh orang yang baik lalu di gunakan untuk melawan balik kejahatan tersebut. Bima Satria Garuda, yang dibuat sepanjang 26 episode, mulai tayang pada 30 Juni 2013 setiap Minggu pukul 08.30 WIB, dan sudah berakhir pada tanggal 22 Desember 2013.
            Reino Ramaputra Barack atau yang biasa di kenal dengan nama Reino Barack, dialah yang menjadi tokoh kunci yang melatar belakangi  terciptanya serial ini. Secara otomatis, dia pula yang menjadi propagandis di serial Bima Satria Garuda. “Scene shooting live action BIMA akan mengambil lokasi-lokasi di Indonesia, khususnya di Jakarta. Ide cerita yang dikemas baik oleh Ishimori Production dan RCTI membuat program ini sangat layak untuk disimak agar masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, dapat memetik banyak dampak positif dari program ini. Program ini juga memberikan peluang khusus kepada sponsor dan pengiklan untuk menciptakan sebuah campaign product yang baru dalam bentuk licensing, sponsorship, built in advertising dan merchandising. Ini merupakan model bisnis baru di dunia entertainment di Indonesia. Melalui program ini, kami percaya model bisnis ini akan jauh lebih menjanjikan,” ungkap Reino R. Barack.[3]
            Dari pernyataan tersebut, sasaran dalam tayangan ini lebih di tujukan kepada anak-anak Indonesia. Sosok kepahlawanan yang melekat pada Bima Satria Garuda di harap mampu mengajarkan nilai-nilai kebaikan, keberanian, semangat, pantang menyerah dalam membela kebenaran kepada anak-anak. Di sisi lain, Reino Barack juga berharap akan ada banyak sponsor dan pegiklan untuk menciptakan campaign product.
            Banyak teknik propaganda yang di gunakan dalam serial ini. Yang paling sering di gunakan adalah teknik Glittering Generalities, contohnya adalah kata bijak di setiap pembukaan serial ini. Kata bijak tersebut digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Tak hanya di setiap pembukaan saja, cukup banyak kata bijak yang muncul di setiap episodenya, baik itu keluar dari mulut tokoh-tokoh protagonis ataupun antagonis. Contohnya adalah yang di katakan dua tokoh protagonis Ray dan Reza ketika di hina Rasputin sang pemimpin tokoh antagonis di serial ini, “Kami memang makhluk lemah, tapi kami tidak sendirian. Bumi adalah rumah kami, harapan manusia bumi tumbuh di sini. Harapan mereka membuat kami kuat.”
            Kemudian transfer, teknik ini digunakan dengan memakai pengaruh seseorang yang populer dan di kagumi. Dalam serial Bima Satria Garuda ini, bekerja sama dengan Ishimori Pro sebagai pihak yang sudah profesional dan memiliki popularitas tersebut juga termasuk dalam teknik propaganda ini, dengan begitu para penonton bisa lebih percaya dengan kualitas kostum, special effect, serta cerita yang di sajikan dalam serial ini. Dengan adanya kerjasama ini di harapkan juga mampu terjadi transfer knowledge antara Ishimori Pro dengan kru Bima Satria Garuda. Serial Bima Satria Garuda menjadi lebih percaya diri lagi dengan menggandeng Stella JKT48 (salah satu member JKT48, idol group lokal yang sedang naik daun saat ini) sebagai tokoh heroine dalam serial ini, lalu Camui Gackt (artis populer asal Jepang) yang mendapat peran sebagai mentor BIMA di beberapa episode, dan Haruka Nakagawa (member JKT48 yang dulu merupakan member AKB48, idol group asal jepang). Dengan mendatangkan artis-artis tersebut, serial ini menjadi lebih di lirik lagi oleh para penggemar artis-artis tersebut.


            Tak hanya fokus dalam layar kaca saja, Bima Satria Garuda juga memiliki kegiatan propaganda di luar serialnya.  Plain Folks, seperti dengan menjenguk anak kecil yang menyandang penyakit mematikan, memberikannya mainan, kemudian kegiatan tersebut di liput oleh infotaiment. Ada juga kegiatan bagi-bagi boneka gratis, hingga mengadakan lomba mewarnai BIMA di sekolah-sekolah dasar yang berada di kawasaan Jakarta. Namun kecintaan BIMA terhadap anak-anak juga bisa di saksikan di beberapa episode-nya. Seperti saat BIMA mengalami ketakutan ketika berhadapan dengan monster gagak yang bisa terbang, ia putus asa dan merasa gagal karena sebagai Ksatria Garuda BIMA tidak mampu terbang. Saat itu di kisahkan ada seorang anak kecil yang sedang berjuang melawan penyakitnya takut untuk di operasi. Lalu kemudian BIMA datang untuk menyemangatinya sehingga anak itu berani untuk di operasi, semangat untuk sembuh anak tersebut menginspirasi BIMA agar pantang menyerah. Pada akhirnya BIMA memiliki kekuatan baru untuk terbang ke angkasa lalu mengalahkan monster gagak.
            Di luar propaganda yang berbau kebenaran dan kebaikan, serial ini juga menggunakan teknik card stacking. Mungkin memang benar kejahatan harus di musnahkan dan bumi harus di lindungi, namun adegan fighting yang berbahaya dan kerap kali di tiru oleh anak-anak jarang sekali di singgung. Padahal tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan pukulan, tendangan, dan pertarungan.
            Selain menggunakan teknik-teknik propaganda seperti yang di sebutkan di atas, bila di tinjau menurut sistemnya, serial ini juga kaya akan simbol-simbol yang dituangkan dalam nama, kostum, dialog, dan lokasi syuting. Nama BIMA Satria Garuda terdengar sangat Indonesia sekali, karena nama BIMA sudah sangat familiar sebelumnya karena di ambil dari tokoh populer dalam pewayangan Jawa.  Menggunakan kostum bertemakan Garuda karena burung ini di anggap sebagai hewan mitologi lokal yang digunakan juga sebagai lambang negara Indonesia. Dialog dalam serial ini menggunakan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sehingga terdengar kaku. Hal ini bertujuan untuk mengajarkankan kembali bahasa Indonesia yang benar supaya anak-anak tidak tenggelam dalam bahasa gaul. Pemilihan lokasi syuting juga bagian dari propaganda, mungkin banyak yang tidak menyadari hal tersebut. Dari monas hingga bunderan HI, lokasi yang merupakan tempat-tempat yang cukup di kenal banyak orang.
            Di sisi lain saat menjelang liburan, saat itulah waktu yang tepat untuk menjual mainan. Dengan memunculkan tokoh hero yang baru dan form (perubahan wujud super) BIMA yang baru pada serial mingguannya, maka secara otomatis akan keluar juga mainan barunya. Mirip dengan cara Kamen Rider dalam urusan menjual mainannya.
            Bima Satria Garuda, mungkin pada serial ini masih banyak konsep yang terjebak oleh Ishimori Pro, meski segala sesuatunya harus melewati persetujuan Reino Barack. Tayangan ini benar-benar mirip dengan Kamen Rider, tak hanya dari segi cerita, Rider kick alias tendangan maut yang menjadi ciri khas Kamen Rider pun dimiliki oleh BIMA. Upgrade Form, konsep 1 monster untuk 2 minggu, dan lain-lainnya juga dimuliki BIMA. Memang pada dasarnya serial Tokusatsu adalah budaya pop Jepang, makabisa dibilang Bima Satria Garuda itu merupakan fushion culture antara Indonesia dan Jepang dalam dunia hiburan di televisi. (Satria Dwinanda, 2014)




[1] Maryati, “BIMA Satria Garuda, Ksatria Baja Hitam Indonesia,” http://www.antaranews.com/berita/373453/bima-satria-garuda-ksatria-baja-hitam-indonesia (7 Januari 2014).
[2] Arya, “Tokusatsu Hero Bima Satria Garuda Telah Lahir,” http://www.hotgame-online.com/news-and-feature/news/tokusatsu-hero-bima-satria-garuda-telah-lahir/ (7 Januari 2014)
[3] Tika Oktavianingsih, “Super Hero Fenomenal Lahir Di Indonesia: Bima Satria Garuda,” http://www.rcti.tv/contents/read/103/bima-satria-garuda (7 Januari 2014)

Minggu, 24 November 2013

LIKE CIGARETTES!

Sebelumnya, saya hanyalah lulusan pelajar seni yang mau tidak mau kini mempelajari media dalam ranah komunikasi. Dan melalui tulisan kali ini, saya hanya mencoba berpendapat mengenai dunia adek-adek idol lokal berlabel patlapan. Topik yang cukup sensitif, melihat banyaknya fans mereka  yang tingkah lakunya tidak terdeskripsikan ini. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis hal ini, namun baru terpicu untuk mulai menulis akhir-akhir ini. So, enjoy it!

Sedikit pengantar : sebagai salah satu fans yang tidak terdeskripsikan juga, saya terjerumus dalam dunia menyedihkan ini sejak awal idol lokal berlabel patlapan memulai debutnya. Awalnya saya cukup ragu dengan konsep yang di usung. Sejenis menggabungkan 2 kultur antara Jepang dan Indonesia, untuk melawan dominasi hiburan musik K-pop (Musik Korea). Mengapa mereka memilih Indonesia? Tentunya karena sudah di pertimbangkan dengan berbagai riset yang telah mereka lakukan. Entah itu dengan metode penelitian kuantitatif atau kualitatif saya tidak peduli karena itu bikin pusing, lagi pula bukan ini yang akan saya bahas.

Oke, lalu apa yang akan di bahas? sekedar curhatan kecil tentang alasan saya ngidol, biar tidak di sangka sebagai fans yang asal triak oi oi oi. Ibarat kata saya mempunyai 100 alasan untuk menyukai mereka, namun di sisi lain saya juga mempunyai 100 alasan juga untuk membenci mereka. Biar nggak percuma juga saya belajar tentang pentingnya literasi media.

Mengapa saya menyukai mereka?

1. Inspiratif
Bayangkan, jongkok di wc ndelokke tai ne dewe we sangat inspiratif... apa lagi melihat adek-adek idol ini? Beuhhh... mantap! ide-ide kreatif bermunculan dengan sendirinya. Baik itu delusi mesum ataupun delusi menyedihkan, hasrat untuk kembali menggambar dengan menjadikan mereka sebagai obyeknya, mempelajari efek dan dampak kemunculan mereka, mempelajari manajemennya, hingga saling belajar dari sesama fans dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Pokoknya banyak deh.

2. Gay Protector
Jika kamu seorang lelaki, ngidol sangat bermanfaat untuk menjaga eksistensi kelaki-lakianmu, karena kecil kemungkinan kamu akan menyukai sesama jenis. Selain itu ngidol juga dapat meminimalisir dan melindungimu dari rayuan maut para maho. Contohnya saja ketika kamu nge-gym, dan kamu pakai kalung photopack  gambar member, kecil kemungkinan kamu akan di godain mas-mas random yang sedang fitnes.

3. Menjauhkan Dari Bahaya Seks Bebas
Nggak perlu tuh yang namanya coba-coba ngeseks dengan menyewa jasa pelacur. Lha wong cari pacar aja jadi males, apa lagi berfikir hingga sejauh itu? cukup nempelin photopack member idaman di guling, sudah merasa tidur di surga bersama bidadari.

4. Pengingat
Twitter adek-adek idol yang selalu mengingatkan untuk jangan lupa mam, jangan lupa sholat, jangan lupa jumatan, jangan lupa ke gereja, jangan lupa istirahat, jangan bobo malam-malam, cepet sembuh buat yang lagi sakit, dan lain-lain. Kicauan mereka sangat berarti untuk para jomblo-jomblo sedih macam saya ini yang pada dasarnya tidak dipedulikan gadis idaman mereka di dunia nyata.  Walau sekedar ucapan ohayou (selamat pagi) dan oyasumi (selamat tidur), itu sangat membahagiakan. Lol.

Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan menyedihkan yang menyebabkan saya agak betah dalam mengamati sepak terjang adek-adek idol ini. Namun kembali ke awal, sebagai orang yang mencoba untuk kritis, tidak adil jika saya hanya menulis sisi positifnya aja. Lalu sisi negatifnya apa? Buaaanyaaaakkk!! Mau di lihat dari perspektif mana? Agama? Komunikasi? Wkwkwkwk....

            Dari pengertian dasar dulu saja yah... idol itu apa sih? Asal mula kata idol di ambil dari bahasa ibrani yang berarti berhala. Jadi idol = berhala. Tapi apalah arti bahasa ketika media sudah menggeserkan makna kata? Seperti halnya makna kata teroris yang kini identik dengan Islam + embel-embel entah itu militan, radikal, dll. Mungkin ini bagian dari konspirasi antara media, freemason, dan kerajaan vudo. Entahlah... kembali ke diri kita dalam memaknai suatu kata tersebut. Namun kalok di tengok lagi, ada benarnya juga lho arti kata idol tersebut. Contohnya saja ketika orang-orang rela datang ke konser idol mereka, dari menyambut di bandara, antri tiket, dateng lebih awal di konser supaya dapet view yang bagus, hingga mengantar kepulangan idolnya setelah show berakhir. Ketika dalam melakukan aktifitas tersebut, kebanyakan fans meninggalkan kewajiban mereka sholat 5 waktu. Jika melihat fenomena tersebut, ga heran dan ga nyangkal juga kalok idol itu kata lain dari berhala.  

Selain itu, idol lokal berbalut label patlapan ini juga mungkin bisa di bilang eksploitasi perempuan. Yang di Jepang sono tau sendiri lah gravure-nya kayak apa, dan itu sebuah kebanggaan. Lain halnya dengan yang lokal, perbedaan budaya dan regulasi menjadikan idol lokal tidak bisa bikin yang gravure-gravure. Tapi ini tak menutup kemungkinan 50 tahun kedepan akan bisa merubah segalanya. Ingat kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit. Apalagi di dukung dengan perkembangan zaman yang seperti ini. Sangat mendukung untuk menciptakan generasi mesum. Ga ada bedanya dengan abad pertengahan 5 -15M pada jaman dark ages Eropa, yang menjadikan perempuan sebagai objek eksploitasi secara seksual di patung-patung, lukisan-lukisan, dan menjadi objek nafsu pria.

Contoh sederhana nih... kelakuan fans dari bibit generasi mesum, menggunakan kamera untuk memotret paha lalu di unggah ke internet untuk berbagi dengan generasi mesum yang lain, bahkan dijadikan lelucon:



Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin saya bahas. Namun karena sudah malas mengetik, akan saya tarik kesimpulan biar bisa segera saya akhiri tulisan ini. Hmm... lalu apa inti dari tulisan kali ini? Bijaklah dalam ngidol, jangan sampai isi dompet dan otakmu di invasi oleh produk bisnis jenius ini.

Like cigarettes... I know it’s pathetic... namun ketika kamu sudah kecanduan, mungkin akan susah untuk berhenti... lalu di sisi lain, kamu pasti tidak menginginkan orang-orang yang berharga untukmu melakukan hal yang sama denganmu. Dan  alasan saya ngidol itu sebenarnya hanya sebatas mencari inspirasi dan pelarian, mungkin ini lebih baik dari pada saya harus merokok ataupun minum minuman keras. Tapi tetep aja ngidol itu terlihat sedih~ (Satria Dwinanda, 2013)

Minggu, 17 November 2013

TOILET MASA KINI, MEMBIASAKAN KITA KENCING SAMBIL BERDIRI

Bismillahirahmanirahim... semoga apa yang saya tulis kali ini tidak mengandung unsur sok tahu yang berlebihan. Oke, kali ini saya akan menyinggung soal toilet laki-laki yang biasanya ada di mall-mall besar, ataupun tempat-tempat gaul dan modern di muka bumi ini. Memang saya bukan pakar toilet ataupun ahli tafsir kitab suci, di sini saya hanya menggunakan sedikit pengetahuan kecil saya untuk mengkritik gaya toilet di era sekarang ini.

          Meskipun saya bukan anak gaul yang gemar belanja ataupun sok iyes di mall, tapi saya juga pernah masuk mall. Dari yang lokal di daerah saya (Jogja) ataupun di luar daerah, seperti di Jakarta atau Surabaya. Dan pengalaman tersebut saya gunakan untuk landasan di tulisan kali ini.

Nah, dari sekian banyak mall yang pernah saya kunjungi itu,toiletnya sangatlah jorok. Kenapa saya bilang jorok? Karena model toiletnya yang berdiri itu. Seperti gambar di bawah:



Lalu joroknya di sebelah mana?

1.) Air kencing pasti muncrat tuh, cipratannya kemungkinan besar akan terkena celana atau baju (pengalaman pribadi).

2.) Kalok sudah kecipratan gitu walau hanya satu tetes tetep aja najis, maka tidak akan sah pakaian atau celana yang kecipratan tersebut untuk di pakai sholat.

3.) Dengan model toilet seperti ini, ujung alat vital juga tidak bisa di bersihkan dengan air. Sehingga setelah kencing langsung di kebalikan ke kandang. Itu berarti sempak yang menjadi korban sisa-sisa kepretan air kencing di ujung helm.

4.) Efek jangka panjangnya bisa menyebabkan celana yang kecipratan itu bau pesing. Pernah saya minjem celana temen, eh di bagian resletingnya pesing banget, kopet lah. Saya yakin temen saya yang satu itu sering kencing di toilet macam ini dan celananya ga ganti-ganti.

5.) Buang air sambil berdiri itu tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Buang air sambil jongkok adalah yang di anjurkan beliau (setau saya sih). Dan yang utama adalah jangan sampai pakaian yang dikenakan terciprat cipratan air kencing.

6.) Posisi juga musti di perhatikan! sebagai umat muslim yang setidaknya mau mencoba menjadi taat sedikit... jangan kencing menghadap arah kiblat ataupun memblakanginya. Saya yakin toilet model begini tidak peduli dengan hal tersebut. Makanya hati-hati ya....

        Nah, itulah alasan saya males untuk menggunakan toilet model-model yang seperti ini. Jadi, kalau kedapatan menjumpai saya masuk toilet di mall-mall itu biasanya saya hanya sekedar ngaca. Soalnya selama masih bisa di tahan, bakal saya tahan untuk tidak buang air di toilet macam ini. Dan ini saya baru ngomong soal joroknya toilet di mall lho ya, belum lagi joroknya mushola yang di taruh di basement di mall-mall.

Kalau boleh curhat, sebenarnya di kampus saya model toiletnya juga seperti ini, padahal kampus saya ini katanya menjunjung tinggi nilai-nilai islami hahahaha... tapi untungnya tetep ada kamar mandi tertutup yang ada bak nya itu. Nah, harusnya di mall-mall dan tempat-tempat gaul terutama di nusantara ini juga ngasih alternatif toilet yang sangat Indonesiawi seperti itu. Saya sih nggak marah liat orang kencing berdiri berjejeran gitu, tapi mbok yo toiletnya tu di kasih kamar mandi yang ada bak dan toilet jongkoknya to yooooo...... (Satria Dwinanda, 2013)

                

Kamis, 10 Oktober 2013

SEBATAS DELUSI

            Pada saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku kedatangan tetangga baru yang datang dari ibu kota. Terlihat mereka adalah keluarga yang mapan, datang ke kotaku untuk keperluan pekerjaan. Mereka bilang akan tinggal di sebelah rumahku hingga 2 tahun ke depan. Ya, kala itu aku tak peduli siapa mereka hingga akhirnya mereka memperkenalkan putrinya kepadaku.


Viny, gadis kecil yang biasa saja dan terlihat agak jutek namun sangat pemalu. Kedua orang tuanya menginginkan ia bersekolah di sekolah yang sama denganku. Mungkin dengan begitu Viny dapat lebih mudah bersosialisasi di lingkungan rumah sekaligus sekolah. Dan secara otomatis akupun mulai mendapat pekerjaan baru sebagai “teman” si gadis ini. Aku harus repot-repot mengajaknya bermain bersama, berangkat sekolah bersama, belajar bersama, dan melakukan hal-hal membosankan bersama. Ini bagai neraka untukku, kenapa aku harus kemana-mana bersama gadis ini? Hingga sebulan berlalu pun kami masih bersama-sama. Bodohnya, dia belum mendapat teman akrab yang lain selain aku. Dan ini mulai membuatku gila, tidak bisa selamanya aku dibuntuti gadis ini! Teman-teman di sekolah pun mulai mengejek kami sebagai sepasang kekasih. Oh, ini semakin menyebalkan.

Akhirnya kelulusan SD tiba, ini artinya masa-masa sekolah dasarku berama gadis itu juga berakhir, dan akhirnya aku dan Viny memutuskan mengambil SMP yang berbeda.  Meski demikian, komunikasi tetap terjalin diantara kami berdua karena pada dasarnya kami memang sudah cukup dekat. Karna rumah kamipun juga cuma bersebelahan. Nah, di masa-masa ini aku mulai jarang bertemu dengannya. Dia mulai memiliki banyak teman di sekolah barunya. Dan tak jarang pula aku melihat teman-teman SMP-nya mengunjungi rumahnya. Sebagai teman dan tetangga yang baik, terkadang aku juga menyempatkan mengunjunginya. Meski sekedar menanyakan kabar dan bercerita-cerita sejenak . Namun itu tak berlangsung lama, perlahan aku juga mulai disibukkan dengan kehidupan SMP ku sendiri. Hingga akhirnya di suatu hari dia datang kerumah mengantarkan sebuah kue sambil meberitahukan padaku bahwa bulan depan ia akan kembali ke Jakarta. Serontak aku terkejut, “sudah 2 tahun kah sejak pertemuan itu? Secepat ini kah?”.

          Selama sebulan terakhir ini, aku mencoba kembali mendekatkan diriku ke Viny. Yah, awalnya aku melakukan ini hanya sebagai wujud sikap tetangga yang baik dan toleran. Hingga tiba moment dimana aku mengajaknya jalan berdua. Dia banyak menceritakan kehidupan sekolahnya, bahkan masalah cinta. Oh my, ketika  itu aku masih kelas 7 dan berstatus jomblo tanpa pengalaman cinta. Viny bercerita bahwa dia banyak disukai cowok, baik teman sekelas ataupun luar kelas, dan dia bingung cara menolak semuanya. Sebagai pendengar cerita yang kikuk dan minim pengalaman cinta, aku hanya bisa sok pinter menasihati dan mencarikan solusi yang entah itu berguna untuk dia atau tidak.

            Tidak ada angin tidak ada petir, tidak badai veranda, tidak ada pula tsunaomi, spontan aku bertanya dengan nada menggoda, “kenapa kamu menolak mereka? Apa tampang mereka ko kopet di nei nyowo? Atau jangan-jangan kamu menyukai cowok lain?”. Tak ku sangka, pertanyaan ini mengantarkan padaku pada sebuah jawaban yang diluar perkiraanku. Viny menjawab dengan nada bercanda, “iiii aku kan sukanya sama kamuu”.


Jujur rasanya seperti terkena freeze sejenak. Namun setelah itu, dengan cool aku berkata, “hah, tak usah bercanda. Kau pikir kalau kau menyukaiku, aku akan menyukaimu juga?”. Kemudian dia sok ngambek, dan tak kusangka kala itu bisa tercipta suasana candaan yang sepertinya baru kurasakan pertama kali selama hampir 2 tahun aku mengenalnya. Dan ketika itu pula aku menaruh perasaan yang berbeda pada Viny.

    Namun waktu berjalan kian cepatnya, tak terasa hari kepulangannya ke ibu kota semakin dekat. Hubungan pertemanan kami pun juga malah semakin dekat. Hal ini justru menimbulkan perasaan yang berat pula. Seaakan aku masih menginginkannya berada di sini. 
(Satria Dwinanda, 2013)

Kamis, 15 Agustus 2013

COSPLAYER TIPE SEPERTI APA ANDA?



Cosplay, sebuah istilah untuk hobi seseorang yang gemar memakai pakaian imajinatif baik dari sebuah karakter populer maupun hasil dari imajinasi pribadi. Dalam tulisan ini saya tidak akan membicarakan sejarah cosplay, hanya saja sekedar mencoba memaparkan pendapat serta perasaan saya ketika menggeluti dunia yang tidak biasa ini. Ya, sebuah another dimension yang penuh dengan seni dan kreatifitas tanpa batas.

Cosplay bukan hobi ecek-ecek yang bisa semua orang lakuin. Butuh perjuangan, ketekunan, modal, dan proses di dalamnya! Karena kostum yang akan digunakan tidak hadir begitu saja di depan mata. Apalagi untuk cosplayer yang berdiri di atas panggung. Para cosplayer harus berjuang dari mengumpulkan uang untuk membeli bahan ataupun membeli kostum jadi, tekun dalam membuat kostum (bila kostum dibuat sendiri), tekun dalam membuat background music, tekun dalam membuat property, tekun dalam berlatih koreografi, dan tekun dalam hal lain yang menunjang cosplaynya.

Dari segi kostum, menurut saya ada 4 jenis kostum dalam cosplay. Yang pertama adalah kostum yang menggunakan armor yang biasanya dibuat dengan bahan busahati atau fiber. Yang kedua adalah kostum yang menggunakan bahan kain. Maka, yang tidak mahir membuat armor atau tidak punya uang untuk membeli/memesan armor bisa menggambil jalan ini. Nah, yang ke tiga adalah jenis kombinasi. Dimana kain dan armor di padukan,  tidak full armor dan tidak full kain. Dan yang terakhir adalah telanjang! Yap, cosplay titan. He he....

Nah segitu saja pengantar mengenai kostum, karna pada tulisan ini saya lebih tertarik untuk membahas isu-isu yang cukup hangat untuk didiskusikan mengenai dunia cosplay. Namun sebelumnya saya akan membedakan jenis cosplayer dulu. Menurut saya pribadi, bila dilihat dari tempatnya akan terbagi menjadi 3 jenis;

  • Stage Cosplayer : menurut saya ini adalah jenis cosplayer yang paling ideal. Karena cosplayer tersebut berani tampil di atas panggung dan memerankan karakter yang dibawakannya, tidak hanya sekedar membanggakan foto-fotonya di jejaring sosial.
  • Street Cosplayer : istilah costreet pasti tidak asing lagi di telinga cosplayer. Ya, istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang yang bercosplay namun tidak berdiri di atas panggung. Mereka Cuma nampang  dan ikut meramaikan event tersebut. Awas, disini sering terjadi out of chara. Apa itu out of chara? Kita bahas nanti.
  • Social Media Cosplayer :  Cuma bercosplay di dunia maya, biasanya tipe ini membanggakan foto-foto hasil photosessionnya. Entah itu sudah masuk photoshop atau belum.

Nah, itu tadi jenis cosplayer bila dilhat dari tempatnya. Terus ada lagi nih tipe cosplayer dari sifat dan wujudnya yang memicu isu-isu tak sedap;

  • Tsakep Cosplayer : Cosplayer yang bangga dengan paras mereka. Disini, make-up berperan penting. Begitu juga unsur-unsur pendukung seperti wig, softlens, aksesoris, dan hal lainnya. Gara-gara ini, banyak orang yang tidak pede dengan kualitas tampangnya mengangkat isu cosplay itu hanya untuk orang-orang cakep. Padahal masalah ini bisa ditutupi dengan mengcosplaykan karakter yang bertopeng.
  • Costester : istilah yang saya buat untuk yang hobi costest di jejaring sosial. Apa itu costest? Costume test alias ngetes kostum, biasanya kostumnya belum jadi atau hanya sekedar ngetes wig dan make-up. Nah ini yang memancing timbulnya isu fenomena maraknya cosplayer abal-abal yang cuma costas-costes doang gak ada action.
  • Wigplayer : cuma modal wig dan syukur kalok masih kepoles make-up. Kadang nongol di event-event, kadang juga nongol di facebook. Nggak salah sih, cuma jadi agak janggal kalok make wig doang ngaku cosplayer tanpa bukti kongkrit selain wig yang memperlihatkan dia emang beneran cosplayer. Maka dari itu fenomena ini lebih tepat disebut wigplay daripada cosplay, karena tida ada unsur kostum di dalamnya.
  • Cosfaker : fenomena ini muncul di dunia maya. Seseorang yang mengaku dirinya seorang cosplayer namun ia cosplay menggunakan foto cosplay orang lain. Nah yang tipe pendusta gini yang layak di cemooh.

  Sebenarnya masih banyak lagi isu-isu dunia cosplay yang menarik di bahas. Dari ada yang beranggapan cosplay itu hobi elit, terus oknum yang tidak suka dengan munculnya cosplayer-cosplayer baru yang menjamur, fenomena cosplay yang digunakan untuk mengamen, pembawaan karakter yang out of chara, pokoknya banyaklah. Fenomena tersebut menjadikan para cosplayer kadang naik pitam dan berhasrat tinggi untuk mengkritik cosplayer lain yang dianggapnya sampah. Bahkan tak hanya sesama cosplayer yang panas karena hal-hal tersebut, namun para kaum yang hidup di dunia jepang-jepangan kadang juga ikut-ikutan panas. Dan itu sering terjadi di dunia maya!

   Oke, saya singgung dikit masalah kasus out of chara, dimana karaketer yang memperlihatkan sifat dan tingkah laku tidak sesuai dengan karakter yang ia kenakan. Banyak sekali yang membenci hal seperti ini. Sebenarnya kalau kita bisa mikir lebih waras dikit ini bukan hal besar yang memicu api pertikaian. Jangan terlalu fanatik, lihat dulu dimana out of chara tersebut di tempatkan. Di panggung kompetisi? out of chara jelas mengurangi penilaian juri. Di cerita kabaret? tergantung alur ceritanya gimana. Di acara komedi? ya hanya sebatas untuk komedi seperti sailormoon banci yang sering kita lihat di salah satu stasiun tv swasta kita. Di foto? Lebih baik kita cek dulu foto itu di upload untuk kepentingan apa. Di jalan? tidak usah di pedulikan karena tidak dalam ajang kompetisi. Atau di tong sampah? Nah ini seperti kasus naruto bareng akatsuki main sepak bola  melawan tim si madun. Saya pikir anda cukup cerdas untuk memilah antara mana yang layak di bash atau di abaikan.

   Selain itu fenomena yang lagi trend saat ini adalah munculnya banyak cosplayer yang di anggap abal-abal. Ahhh yang begini nih yang sering memicu konflik dunia maya yang tak berujung. Konflik tidak jelas antara cosplayer yang merasa pro dan newbie. Kalau menurut saya pribadi, males banget membahas yang seperti itu.  Apa lagi untuk ikut campur urusan cosplayer lain. Persetan mau pro apa newbie, yang penting kita bercosplay sesuai jalan yang kita inginkan.

   Lalu, apa tujuan saya menulis tulisan ini?
  
   Sebenarnya dalam tulisan ini saya hanya ingin mengkritik cosplayer yang bisanya cuma aktif koar-koar nyari ribut di dunia maya. Why? Mungkin mereka tidak merasakan betapa lelahnya latihan untuk perform di panggung, atau merasakan susahnya untuk on chara seperti para cosplayer yang suka costreet. Menurut saya, menjadi cosplayer dunia maya bukan hal sepele yang hanya butuh memamerkan hasil foto cosplaynya saja, namun disini juga butuh ATTITUDE yang baik.

   Well, anda mau fokus menjadi stage cosplayer, street cosplayer, social media cosplayer, atau fokus di ketiganya itu terserah anda. Masing-masing mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Yang penting bisa saling menghargai aja dan melakukan yang terbaik di jalur cosplay yang ingin di tempuh. Tidak perlu menghina yang masih pemula, tidak perlu mempermasalahkan hal-hal yang memicu perdebatan berkepanjangan, tidak perlu juga memprovokasi isu-isu semacam cosplay digunakan sebagai sales atau badut ulang tahun. Meskipun tulisan ini juga berbau menghina dan mempermasalahkan hal tersebut, maka dari itu jangan di tiru, wkwkkwkkwk! Yang penting kita cosplay dan kita senang!

Ini hanya sekedar wacana semata, ambil yang baik dan buang yang jelek. Saya bukan pakar cosplay ataupun admin fanpage pecinta cosplay, tidak ada maksud menggurui, kita sama-sama belajar aja. Jadi mohon maaf jika ada penjelasan yang ngawur. Salam Jiwa Nusantara!
(Satria Dwinanda, 2013)